(***)

Bermimpi itu memang indah, namun semakin indah ketika semuanya menjadi realitas. Jadi jangan takut menjadi sang pemimpi. Begitu niatnya film ini berpidato di depan para penonton. Sang Pemimpi yang digawangi oleh seorang Riri Riza dan Mira Lesmana sebagai sang penyokong dana hadir lagi dengan formula seri terbaru dari lanjutan adaptasi buku laris ini. Kalau disimak, jika film ini berdiri sendiri, terlepas dari embel-embel buku laris di Indonesia, terlepas dari keturunan film laris Laskar Pelangi, bisa dikatakan film ini nyaris tidak istimewa di mata saya. Ide dasar ceritanya tidak menarik. Fokus ceritanya pun tidak cukup menjamin sebuah film dapat dibangun. Permasalahannya adalah film ini membuat orang yang tidak membaca bukunya meraba-raba jalan ceritanya. Tingkat dimana akan membuat sebuah karya menjadi kurang bisa diapresiasi. Meskipun begitu, sejujurnya saya lebih menyukai film ini daripada Laskar Pelangi yang konten ‘ceramah”nya lebih parah daripada film ini. Meskipun, Sang Pemimpi juga tidak kalah dalam masalah ‘ceramah’nya kepada penonton yang terkadang membuat saya meringis mendengarnya. Saya memang paling tidak suka kalau sebuah film terlalu ambisius ingin mengarahkan penontonya berada di sudut mana. Sang Pemimpi seolah memaksa saya, “Hey, Anda harus jadi Sang Pemimpi! Itu baik bagi hidup Anda!”. Terlepas dari kesan ceramahnya itu, saya cukup bisa menempatkan film ini sebagai sebuah hiburan yang setidaknya membuat perut saya sakit karena tertawa. Komedi film ini bisa membuat seisi penonton nyengar-nyengir tidak jelas karena kelucuannya masih membekas. Nampaknya saya jadi penasaran dengan seri selanjutnya yang akan menghabiskan settingnya di wilayah Eropa. Overall, Sang Pemimpi film yang menghibur, namun belum sampai mendapat jatah “great’ dari saya.

















Tunggu, bagi seorang yang butuh semacam motivas/dorongan untuk bangkit mengejar mimpi macam saya, tak apalah “diceramahi”. Ini “kuliah kehidupan” yg murah. Kita membutuhkannya.
Riri Reza kayaknya memang suka berceramah ya.Liat saja betapa cerewetnya 3 Hari untuk Selamanya, tapi memang filmnyadia sayang banget tuk dilewatin
[...] Quick review sang pemimpi [...]
Sang pemimpi walau cinematographinya bagus dan komedi cukup menghibur, tapi ceritanya datar (cenderung jelek), komplikasinya hambar, moral ceritanya pasaran dan murahan.
6/10
setuju @ryazor , sama hal nya dengan laskar pelangi
[...] Quick review sang pemimpi Tags: Andrea Hirata, laskar pelangi, sang pemimpi, sang pemimpi review, tetralogi laskar pelangi ← Akhirnya memilih… it’s time to say.. sayonara Memanajemen mirror open source di kampus → [...]
filmnya bagus, sesuai dg konten dlm novelnya…kerren.
http://kafebuku.com/tetralogi-laskar-pelangi-2-sang-pemimpi/