Awya Ngobrol


Oscar Predictions (November)
November 27, 2009, 12:53 am
Filed under: oscar | Tags: , , ,

Sejujurnya saya merasakan kegundahan yang teramat mendalam ketika membuat prediksi ini. Entah mengapa tahun ini perjalanan Oscar Season terasa sangat tidak menarik, membosankan sekali. Nama baru muncul di kategori Best Actor. Sementara The Big Four (Avatar, Nine, The Lovely Bones, dan Invictus) belum juga diketahui kabarnya. Screening untuk Nine sudah dilakukan, namun berbagai media diwajibkan untuk tutup mulut sampai filmnya benar-benar dirilis. Selidik punya selidik, filmnya sendiri mendapat antusias yang luar biasa, bahkan ada yang mengatakan lebih bagus dari 8½, film yang menjadi adaptasi Nine ini. The Lovely Bones ternyata mendapat review mixed di Inggris sana. Invictus sudah screening namun media disarankan tutup mulut dulu. Kebanyakan mengatakan kalau keempat film besar tadi tidak akan merubah game yang sudah terjadi yang nampaknya Precious dan Up in the Air tetap menjadi kandidat kuat peraih trophy utama. Sampai saat ini saya masih berharap terjadi kejutan. Akan sangat dibuat bahagia sekali jika The Hurt Locker menggondol trophy utama.

Minggu depan, National Board of Review akan mengumumkan pemenang-pemengnya sekaligus 10 film terbaik versinya. Setidaknya setengah dari sepuluh film itu kemungkinan masuk Nominasi Oscar. Baiklah, inilah prediksi untuk bulan November ini:

Note:

a) Nama diurutkan secara alphabetis.

b) Nama yang dicetak TEBAL merupakan favorit saya sebagai pemenang.

c) (*) menandakan kandidat yang saya prediksi secara objektif akan menjadi pemenang berdasarkan oscar buzz yang diterima (buzz berasal dari review kritikus, apresiasi dan prediksi para blogger yang memantau Oscar, dan raihan penghargaan serta penerimaan dari berbagai festival <precursor>).

Complete Predictions after the cut



New Moon (Vampire tale who wants to be a “Romeo and Juliet” epic)
November 27, 2009, 12:48 am
Filed under: Movie Review | Tags: , ,

(*)

Saya mengerti mengapa antrean film ini begitu panjang sampai keluar pintu. Saya mengerti mengapa film ini banyak ditunggu-tunggu oleh penggemar bukunya. Dan, saya juga masih bisa mencoba dengan sekuat tenaga untuk mengerti mengapa para wanita berteriak histeris ketika Edward Cullen muncul pertama kali di layar bioskop (ini beneran lho). Yang saya tidak mengerti mengapa banyak yang menyukai film ini ya?

Sorry to say, film ini masuk dalam daftar film terburuk saya tahun ini bersanding dengan Transformers: Revenge of the Fallen, 2012, dan GI:Joe. Hampir tidak ada yang bisa saya angguki dengan ekspresi senyum tersimpul dari film ini. mulai dari filmnya yang mencoba bermain di wilayah “dark” tapi rasanya tetap “ringan” seringan angin.

Read more



10 Worst Oscar Snubs of the Decade

Mungkin masih menjadi ingatan yang sulit dilupakan, bahkan sampai sekarang  masih digunjingkan bagaimana The Dark Knight mendapat predikat “Oscar Snub” Februari lalu. Sebelum melirik ke daftar lebih jauh, mari kita lihat apa sih arti Oscar Snub itu sendiri? Snub kalau diartikan menjadi “penghinaan” “cercaan” yang secara literal menjadi “Cercaan Oscar” namun secara kontekstual Oscar Snub diberikan kepada sebuah film, aktor, aktris, dan kategori lainnya yang sebelumnya memiliki buzz (gema Oscar) yang kencang dari kritikus dan precursor (festival dan ajang awards lainnya) namun secara mengejutkan dipetieskan atau tidak dilirik atau di-snub oleh Oscar dalam artian tidak masuk nominasi sekalipun. Nah, contohnya adalah The Dark Knight tadi yang gagal meraih nominasi Best Picture. Saya masih ingat bagaimana marahnya orang-orang di salah satu blog Oscar sampai-sampai komen yang pro-kontra berjumlah ratusan. Saya agak gemes karena The Reader jadi kena getahnya padahal dia tidak salah apa-apa. Okelah, The Dark Knight memang film terbaik kedua saya tahun 2008 dan The Reader bahkan tidak masuk daftar sepuluh film terbaik saya, bukan berarti saya membela The Reader, hanya saja kondisinya agak kelewatan. The Reader bukanlah film jelek, secara logis lebih punya materi Oscar ketimbang The Dark Knight, cukup beralasan mengapa pihak AMPAS tidak meliriknya. Mungkin menimbang pilihan ini akan terlihat mainstream karena adaptasi komik akan masuk Best Picture (baca: pemilih konservatif).

Contoh lainnya yang masih terngiang adalah “Dreamgirls”, film pertama dalam sejarah yang memimpin nominasi Oscar tanpa nominasi Best Picture! Banyak yang menganggap ini termasuk Oscar Snub terbesar dekade ini, tapi saya sih tidak setuju dengan hal ini ya karena saya membenci “Dreamgirls” hehehe. Selain nomor-nomor lagu yang ditampilkan, film ini lemah ketika musik meredup dan mulai bermain di sisi dialog dengan ceritanya yang biasa saja. Saya setuju dengan keputusan Oscar untuk men-snub film ini, lol.

Nah berikut sepuluh Oscar Snubs yang membuat saya geram, setidaknya karena tidak berhasil masuk nominasi Oscar, karena bagi saya mempunyai buzz yang cukup besar, potensi yang kuat, terbaik di tahunnya, namun lagi-lagi AMPAS-lah yang memiliki keputusan. Ketakutan saya untuk nominasi Oscar tahun ini adalah di-snub-nya Jeremy Renner dari nominasi. Semoga tidak terjadi.

Setidaknya dengan melihat daftar ini Anda akan disadarkan bahwa tidak selamanya pilihan Oscar itu benar dan tidak selamanya film-film yang masuk nominasi Oscar itu yang terbaik di tahunnya (setidaknya dari kacamata saya). Mungkin lima tahun lalu saya mengganggap film-film Oscar itu adalah jaminan yang terbaik, tetapi ketika mengikuti perjalanannya secara intens banyak sekali film bagus yang tidak masuk nominasi dan kalau dibahas panjang sekali (politik dan sebagainya).

Ini dia 10 Worst Oscar Snubs of Decade versi Awya Ngobrol:

10. Uma Thurman (for Best Actress in “Kill Bill 1 & 2”)

Argh, benci deh kalo ingat Oscar sekalipun tidak menominasikan Uma Thurman lewat perannya sebagai The Bride di Kill Bill ini.  Padahal precursor sudah banyak memuji dan mengakui aktingnya. Bahkan Golden Globes menominasikan dia dua kali lewat perannya ini.

Complete List after the cut



Quick Review: The Damned United
November 23, 2009, 12:43 pm
Filed under: Movie Review | Tags: ,

(****)

Entah mengapa dari dulu saya selalu memiliki ketertarikan untuk menyimak film berbau olahraga. Nampaknya selalu saja ada spirit perjuangan yang dibawa oleh film-film bertema olahraga. Menang-kalah, jujur-licik, berjuang-menyerah, adalah berbagi tematik manusiawi yang biasanya dipertemukan dalam film berbau olahraga. Film ini ingin menggiring cerita ke arah yang berbeda, fokus cerita bukanlah tentang bagaimana underdog menjadi bintang, bukan pula tentang bagaimana sportivitas mengalahkan kecurangan. Film ini menyeret sisi di balik manajemen sebuah tim sepakbola inggris yang sentralnya menceritakan kehidupan pelatihnya yang terkenal dengan “mulut”nya yang bawel. Michael Sheen merangkul karakter sang pelatih dengan begitu meyakinkan. Mulai dari bagaimana sikap si pelatih yang memendam kebencian mendalam, hingga karirnya terjungkal akibat kebenciannya yang tidak terkontrol. Film dengan durasi yang tidak begitu panjang. Menyimpan berjuta senyum lebar setelah menontonnya. Di beberapa bagian membuat kita tertawa. Penampilan memukau dari Michael Sheen yang nampaknya tidak akan dilirik Oscar. Salah satu film yang akan mengisi daftar film terbaik saya tahun ini.



Quick Review: Julie & Julia, Setengahnya good, setengahnya “meh”
November 23, 2009, 12:35 pm
Filed under: Movie Review | Tags: , ,

(**½)

Menyimak Julie & Julia seolah menikmati santapan nasi goreng di pagi hari yang kemudian dilengkapi dengan selembar roti, yang bagi selera saya, nasi goreng saja sudah mampu mengenyangkan. Ditambah roti, perut terasa penuh dan mual.

Entah mengapa setiap kali Nora Ephron mencoba untuk berada di kursi sutradara, filmnya selalu terjebak pada tingkat kebosanan yang benar-benar mengganggu sekaligus antiklimaks. Contohnya, Sleepless in Seattle yang cukup bikin hati gondok dengan perjalanan si Tom Hanks dan Meg Ryan dengan klimaks yang melegakan namun tidak memuaskan. Julie & Julia seolah mengadu akting dua pemain utamanya yang sayangnya terasa jomplang sekali di film ini. Amy Adams yang biasanya bermain bagus, entah mengapa di film ini karakter Julie yang dimainkannya kurang meyakinkan. Ditambah lagi dengan ceritanya yang tidak menarik, lengkap sudah. Untungnya film ini terselamatkan dengan cerita bagian Julia Child yang dimainkan dengan luar biasa oleh Meryl Streep. Mulai dari gestur, aksen, gaya bertutur, sampai bagaimana dia menggerakkan bahunya, mirip sekali dengan Julia Child yang asli. Nampaknya film ini akan terasa lebih baik jika hanya menjadi satu cerita: Julia saja. Sorry to say, ceritanya si Julie kurang penting.